Sisi Lain

Teruntuk Lelaki Cerdas, Terhormat, dan Berakhlak Mulia

UNTUKMU lelaki cerdas, terhormat, dan berakhlak mulia,

 

“Assalamu’alaikum,” begitu sapaku selalu setiap pagi saat kau baru bangun.

“Apa kabarmu, sayang? Nyenyakkah tidurmu?”

 

Lalu kupeluk engkau dengan sepenuh hati dan cintaku. Tak lupa kupasang senyum secerah mentari pagi. Agar segera buncah semangatmu menjalani hari ini.

 

“Main apa kita hari ini, sayang? Apakah pasir ajaib, lego, mobil-mobilan, atau mewarnai buku superhero lagi? Apa sajalah. Asal kau senang.”

Terkadang cukup ada aku yang bersedia menjadi temanmu bermain kejar-kejaran atau petak umpet, kau sudah sangat bahagia. Sambil berlari-lari, tawamu lepas, menularkan bahagia tak terkira di dadaku.

 

Tahukah kau, sayang? Pernah aku merasa bahwa apa yang kujalani saat ini bersamamu selamanya hanyalah mimpi. Pernah aku tak ingin lagi berharap akan kehadiranmu di dunia ini. Bukan, bukan aku ingin menolak hadirnya dirimu. Tapi aku hanya takut kecewa pada harapan yang tumbuh. Bahwa semakin tumbuh harapan, akan semakin dalam rasa kecewa. Jadi aku pasrahkan saja segalanya pada kehendakNya.

 

Tak pernah kumengira, segala rintangan yang kuhadapi saat sebelum dan selama mengandungmu, akan bisa kulewati. Sungguh hanya kepadaNya lah tempatku bergantung dan berpasrah hingga wujudmu nyata kini di pelukanku. Tak ada kata yang bisa kutuliskan untuk menggambarkan betapa indah Allah telah menciptakanmu. Betapa tepat perhitunganNya untuk menciptakanmu di saat aku dan ayahmu telah siap menyambutmu sebagai amanah yang wajib kami jaga di dunia sampai akhirat kelak.

 

Sesungguhnya kami tak tahu tantangan apa yang akan menghadang di hadapan. Ujian apa yang akan Allah berikan seiring kehadiranmu. Aku hanya bisa memberikan cinta yang tak putus dan berharap doa-doa yang kupanjatkan untukmu senantiasa diperkenankanNya. Doaku, doa ayahmu, sesuai dengan makna yang tersemat dalam namamu.

 

Tumbuh besarlah menjadi lelaki cerdas, terhormat, dan berakhlak mulia seperti Muhammad, Nabi teladan kita, teladanmu kelak. Jadilah pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa. Berbahagialah di dunia dan kelak di akhirat. Jangan pernah melupakan Allah, Tuhanmu yang Esa. Cintailah Allah, Sang Maha Pemberi Kehidupan. TanpaNya, kita takkan pernah bersua. TanpaNya, kau hanyalah sebait larik puisi dalam mimpi-mimpiku yang takkan pernah menjadi nyata.

 

Masih ingatkah kau akan puisi yang kucipta untukmu berpuluh bulan yang lalu, Nak? Bahkan sebelum nyata wujudmu sebesar zarrah pun?

Sini, Nak. Mari aku tuliskan lagi untukmu.

 

“Langkah-langkahku sudah jauh terjejak, Nak

Bisakah kau ikuti?

Masih adakah jejak-jejakku di sepanjang jalan yang kau lalui?

Tersesatkah dirimu, Nak?

Apakah hujan atau desir angin yang kencang menjadi penghalang kau segera sampai ke tempatku menanti?

Minta saja tolong pada Tuhan

Agar ia mengutus malaikatNya untuk menuntunmu sampai ke rahimku

Tenang saja, Nak

Aku akan tetap menunggumu

Hati-hati di jalan, Nak

Genggam erat panduan malaikatmu

Agar mudah langkahmu menemuiku”

 

 

Itu puisi gundahku, Nak. Bisakah kau rasakan betapa gamangnya aku waktu itu di antara harapan dan kenyataan ingin memilikimu? Demikianlah, Nak. Betapa doa menjadi kekuatanku untuk terus mengharapkan yang terbaik bagi jalan hidupku. Jikapun kau memang ditakdirkan takkan pernah sampai di tempatku menanti, aku sudah bersiap untuk itu. Meskipun pilu barangkali jadi temanku sesekali bila teringat tentangmu.

 

Tapi memang Allah Mahabaik, seperti persangkaan hambaNya. Usaha dan doa yang dimohonkan kepadaNya tak pernah dinafikanNya. Aku memohon, maka permohonanku pun dikabulkanNya, tak lama setelah aku dan ayahmu bersimpuh pasrah di Baitullah. Lalu jadilah dirimu yang sekarang sebagai teman hidupku, pengusir sepiku.

 

Banyak sudah yang kita lewati bersama sejak 2 tahun 10 bulan yang lalu. Bahkan 9 bulan lebih beberapa hari sebelumnya. Semakin besar dirimu, semakin kulihat kau tumbuh jadi anak cerdas yang mampu menyejukkan hati kami. Semoga kelak kau jadi anak yang shalih, Nak. Yang mendoakan kami, ayah ibumu, selalu dalam tiap sujud dan tengadah tanganmu padaNya.

 

Jadilah berbudi, Nak. Karena dunia makin beringas dan tak tahu aturan. Betapa banyak sudah kegilaan-kegilaan yang terjadi di sekeliling kita sebagai manusia. Tapi aku yakin pada perlindunganNya. Bahwa Allah akan melindungimu, melindungi kita senantiasa. Mohonku padaNya, agar aku bisa menjadi madrasah pertama dan utama bagimu. Yang mengajarkanmu banyak kebaikan dan kearifan, yang kelak menuntunmu menjadi lelaki dewasa yang cerdas, terhormat dan berakhlak mulia.

 

Maka jadilah seperti itu, Nak. Jadilah seperti harapan kami yang tersemat dalam namamu yang indah. Kami hanya bisa memberikan cinta dan kasih sayang yang semoga bisa menjadi penuntunmu dalam melangkah. Selebihnya kami hanya bisa berpasrah, agar ditetapkanNya hati kami, hatimu, senantiasa pada hidayah.

 

 

Salam sepenuh cintaku untukmu,

Ibumu

 

***

 

Ditulis untuk tema ke-18 (pengganti) Blogger Perempuan Network 30 Days Challenge 2018.

Previous Post Next Post

You may also like

Leave a comment

Leave a Reply

%d bloggers like this: