Obituari

Rindu Nirwana (2)

Begini ternyata rasanya kehilangan.

Di satu sisi, hatiku -mau tak mau- menerima kenyataan kalau ia sudah tiada. Namun di sisi hati yang lain, ada perasaan kalau ia masih ada, masih bernyawa, masih bernafas, di suatu tempat yang aku tak tahu dimana. Maksudku, aku tak harus tahu ia ada dimana tapi yang penting aku merasa ia masih ada; bernafas, berjalan, tersenyum, berbicara sepertiku.

“Ia hanya sedang ke luar kota mungkin? Dan bukankah selama ini pun kami sudah berjauhan dan jarang berkomunikasi? Lalu kenapa aku harus merasa kehilangan ketika ia sudah benar-benar tiada?”

Setidaknya perasaan “semu” itu bisa membuatku lebih baik. Tak harus selalu menangis kala mengingatnya. Bahkan aku sudah mulai bisa mengingat kekonyolan-kekonyolan maupun kegembiraan-kegembiraan serta hal-hal menyenangkan lain ketika ia masih ada. Kehilangan itu telah bertransformasi ke dalam untaian-untaian doa yang tak putus untuknya, juga untuk keluarga yang ditinggalkannya. Kehilangan itu perlahan menjelma sebuah kekuatan baru, semangat baru, yang senantiasa membisiki hatiku agar selalu mengingatNya. Kediamannya kini adalah sesuatu yang dirindukan. Rindu…rindu padanya, rindu jannahNya…

Ah, abangku sayang… Tentu engkau masih ada, tapi bukan di sini. Bukan di tempatku berpijak. Engkau hanya lebih dulu melanjutkan perjalanan ke persinggahan berikutnya. Kakimu telah selangkah lebih maju. Dan aku, bersama orang-orang yang masih berpijak di bumi yang sama, masih menunggu giliran yang entah kapan…

***

>> Teriring doa untuk Ibunda agar senantiasa tabah dan semakin tabah.

*Umak, sudahlah…jangan menangis lagi. Anak lelakimu sudah tenang di sisiNya. Insya Allah.. Berdoa saja agar suatu saat nanti kita semua dapat berkumpul kembali di akhiratNya… (amin…)

Previous Post Next Post

You may also like

4 Comments

  • Reply Rindu

    andai engkau datang kembali …

    October 11, 2013 at 11:31 am
  • Reply endah

    Kejadiannya mirip dengan yang ku alami. Aku mengetahui suamiku sudah tak ada lagi saat melangkahkan kaki ku di IGD. Seluruh tubuh ku seakan tak merasakan apapun. Walaupun hati berat, tapi aku iklas dengan kepergiannya yg mendadak.

    August 13, 2014 at 8:09 pm
    • Reply annisarangkuti

      Wah..turut berdukacita, mbak Endah..semoga suami mbak sudah mendapat tempat terbaik di sisiNya ya..aamiin..

      Terima kasih sudah mampir baca, mbak..maaf baru dibalas.. 🙂

      September 1, 2014 at 11:47 pm

    Leave a Reply

    %d bloggers like this: