Inspirasi

Menyikapi Penyesalan dengan Cara yang Elegan

SIAPA sih manusia yang tidak pernah menyesal? Tapi apakah perlu suatu kesalahan, kejadian, atau apapun yang pada akhirnya menimbulkan penyesalan dalam hidup terus membelenggu dan menjauhkan kita dari kebahagiaan?

 

Saya termasuk yang pernah terbelenggu dalam penyesalan yang seolah tiada akhir. Kesalahan yang pernah dilakukan di masa lalu begitu kuat meracuni hati dan pikiran untuk terus menerus merutuki apa yang telah terjadi. Tanpa melihat lagi kebahagiaan yang bisa saja diciptakan dan dinikmati saat ini. Dampaknya adalah energi negatif yang terus menerus melingkupi diri.

 

Kemarahan, kesedihan, kekecewaan, dan sikap menyalahkan diri sendiri begitu mudah terpancing keluar ketika mengingat kesalahan di masa lalu itu. Butuh waktu yang tidak sebentar untuk menyadarkan diri sendiri agar ikhlas dan menerima apa yang sudah terjadi. Pelan-pelan belajar berdamai dengan diri sendiri dan masa lalu.

 

Takkan ada hidup manusia yang sempurna. Pasti ada suatu titik yang akan membuatnya menyesali diri mengapa dulu melakukan ini, atau mengapa dulu tidak melakukan itu. Tapi menyesal sampai lupa mensyukuri nikmat Allah yang tetap melimpahi kita sepanjang waktu, apakah pantas?

 

Salah satu penyesalan saya mungkin terangkum secara implisit di tulisan saya yang ini. Ketika saya bercerita tentang diri saya yang pemalu, hingga saking pemalunya sampai mencapai level ketidakpercayaan diri yang kronis. Ketidakpercayaan diri yang menjauhkan saya dari kesempatan-kesempatan berharga yang bila dulu saya lakukan dan capai, bisa jadi akan membuat masa sekolah saya menjadi masa yang paling indah.

 

Rasa menyesal kenapa dulu tidak berusaha lebih baik dalam hal akademik, kenapa dulu tidak aktif di organisasi kemahasiswaan, kenapa dulu tidak intens belajar bahasa asing (terutama bahasa Inggris), kenapa dulu tidak ngotot untuk belajar berenang, kenapa dulu tidak mencari info seputar beasiswa ke luar negeri, dsb. Segala hal ideal yang tak diusahakan tercapai, berbuah rentetan penyesalan yang panjang bila diurai.

 

Penyesalan (dok. AFR)

 

Penyesalan demi penyesalan itu pun jadi mudah sekali terusik kembali di zaman media sosial (medsos) seperti sekarang. Rasa iri dan insecure mudah menjangkiti begitu melihat update status, tweet, atau instastory teman di medsos. Update medsos yang menggambarkan hidup mereka yang aman, nyaman, sukses dan bahagia. Menempuh pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, sering jalan-jalan atau bahkan tinggal di luar negeri, berkarir bagus di usia yang masih 30-an tahun, punya anak-anak lucu yang berprestasi, semakin cantik dan berkilau dengan perawatan mahal, sebut saja semua. Sampai diperoleh kesimpulan bahwa segala model kesempurnaan hidup bisa ditemukan di medsos.

 

Kesempurnaan hidup ala medsos itupun lalu dibandingkan dengan diri sendiri yang masih “apalah saya”. Sungguh formula yang sempurna untuk menciptakan penyesalan yang tiada guna. Padahal ketidaksempurnaan di masa lalu itu masih bisa diperbaiki, setidaknya dijadikan pelajaran berharga untuk ke depannya. Selagi masih diberi umur, kenapa tidak?

 

Saya yang menyesal belum bisa berenang? Tinggal cari instruktur yang bisa mengajari berenang. Paling tidak, sesempatnya suami yang akan mengajari. Belum fasih berbahasa Inggris? Tinggal belajar di tempat kursus bahasa Inggris, bahkan otodidak dari buku dan internet pun bisa. Ingin punya karir bagus di usia yang relatif masih muda? Ya bekerjalah dengan giat, ikuti passion, dan ciptakan keunikan diri sendiri, yang mungkin bisa saja balik mengundang rasa iri teman-teman yang bekerja kantoran dan sukses itu.

 

Tidak ingin semua kesalahan di masa lalu itu terulang? Ya didik anak mulai dari sekarang sesuai standar yang kita inginkan. Jika pendidikan yang kita peroleh dulu dirasa belum maksimal, arahkan anak agar senang belajar, senang mencari tahu, agar ia memperoleh banyak kesempatan yang dulu pernah kita sia-siakan. Tapi dengan tidak memaksanya agar selalu melakukan sesuai yang kita inginkan, tentu saja.

 

Ingin sekolah lagi? Ingin ini? Ingin itu? Minta saja pada doraemon. Masih bisa diusahakan selagi masih diberi kesempatan hidup. Siapa bilang segala kesempatan baik itu hanya akan menghampiri orang-orang berusia muda? Tidak ingat kisah Colonel Sanders yang menciptakan resep rahasia KFC? Atau beberapa kisah tentang kakek dan nenek yang masih bercita-cita tinggi untuk kuliah lagi? Tak ada yang salah dengan umur dan waktu yang terus berjalan. Tinggal kita saja, bisa tidak memanfaatkan sebaik-baiknya kesempatan?

 

Tetap optimis (https://www.fromthegrapevine.com/innovation/are-we-born-be-optimistic-rather-realistic)

 

Maka penyesalan demi penyesalan memang tiada berguna. Hanya akan membuang semakin banyak kesempatan untuk memperbaiki diri dan memperoleh kesempatan-kesempatan baru yang bisa jadi lebih baik daripada yang pernah kita sesalkan.

 

Kita hanya perlu berdamai dengan diri sendiri. Belajar ikhlas dan lapang dada atas semua skenario yang telah Allah ciptakan untuk kita. Mungkin berat, tapi akan menjadi lebih ringan jika kita berprasangka baik padaNya. Bukan tidak mungkin Allah memberikan jalan hidup seperti yang sudah kita sesali itu justru agar kita bisa menemukan jalan lain yang lebih baik untuk diri kita sendiri.

 

Bukankah dalam salah satu ayatNya Allah SWT berfirman,

 

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah yang paling mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah:216)

 

Sungguh, ayat inilah sebaik-baiknya obat bagi penyesalan yang datang. Tak ada hal yang bisa menghentikan penyesalan dan mengubahnya menjadi kesempatan selain belajar ikhlas menerima apapun takdirNya, berusaha memperbaiki diri dan bersyukur atas limpahan karuniaNya, serta tetap optimis dan berbaik sangka pada jalan hidup yang telah digariskanNya.

 

Hidup terlalu indah jika disia-siakan oleh penyesalan, Kawan. Maka bangkitlah, terus bergerak meraih lebih banyak lagi kesempatan.

 

***

 

Ditulis untuk tema ke-23 Blogger Perempuan Network 30 Days Challenge 2018.

Previous Post Next Post

You may also like

Leave a comment

Leave a Reply

%d bloggers like this: