Jalan-Jalan Review

Mencicip Nikmatnya Gulai Kepala Ikan ala RM Keluarga

Akhirnya nyampe sini juga.. :)

Akhirnya nyampe sini juga.. 🙂

SEPERTI tekad saya di tulisan kemarin, saya ingin mencicip gulai kepala ikan di RM Keluarga, Teluk Kabung, Bungus. Waktu jalan ke lokasi Jembatan Akar di Bayang Utara maupun ke Bukit Langkisau di Painan, kita pasti akan melewati rumah makan ini. Dari arah Padang, lokasinya di sebelah kiri. Waktu menuju Jembatan Akar, saya dan suami sudah sibuk mengamati setiap rumah makan yang dilewati selama perjalanan. Syukurlah, sekitar 30 menit dari rumah makan sebelumnya -tempat kami makan siang- di daerah Teluk Bayur, kami menemukan rumah makan ini. Bangunan dan halaman parkirnya yang luas persis dengan foto-foto di postingan Pak Junanto. Cuma beda warna catnya saaja. Hehe…

Maka pada esok harinya, setelah kunjungan wisata ke Jembatan Akar dan Bukit Langkisau itu, kami berangkat menuju RM Keluarga. Saya bersemangat sekali. Betapa tidak, perjalanan ke sana saja sudah menarik, karena akan melewati pelabuhan Teluk Bayur yang pada siang itu tampak indah sekali. Langit dan lautnya biru. Berbagai macam kapal, besar dan kecil, berseliweran dari dan menuju pelabuhan. Apalagi kalau kita sudah jalan menanjak dan memandang dari atas. Wow! seperti lukisan saja.

Sebelah kepala ikan kakap merah ini seukuran satu piring.. :D

Sebelah kepala ikan kakap merah ini seukuran satu piring.. 😀

Dari pusat kota Padang, kira-kira butuh waktu 1 jam ke RM Keluarga itu. Tak terlalu jauhlah. Kami sampai di sana sekira pukul 12. Rasanya senang sekali ketika akhirnya menginjak tempat makan yang selama beberapa tahun terakhir membuat saya penasaran kalau mengingat Padang. Haha!

Kami langsung memesan 2 porsi gulai kepala ikan. Syukurlah masih ada, karena kabarnya, gulai kepala ikan di situ cepat sekali habisnya. Tak sampai jam 2 siang, pengunjung yang mau makan kepala ikan bisa gigit jari, dan mau tak mau hanya menikmati sajian khas rumah makan Padang yang juga tersedia di sana. Benar saja. Saat kami sampai, sudah ada yang memesan gulai kepala ikan berporsi-porsi. Untuk dibawa ke Jakarta, katanya. Wah! luar biasa berarti terkenalnya gulai kepala ikan ini. Memang, sepupu suami dan teman saya yang di Padang saja merekomendasikan rumah makan ini untuk makan gulai kepala ikan yang terenak. Juga orang-orang itu, siapa saja yang kami tanyai sebelum ke tempat ini. Saya makin penasaran. Sedahsyat apa sih rasanya?

Di sini juga ada sajian khas rumah makan Padang..

Di sini juga ada sajian khas rumah makan Padang..

Tak sabar menanti pesanan, saya dekati stelingnya. Satu kuali besar yang berisi kepala-kepala ikan kakap merah baru keluar dari dapur. Mengepul dan menguarkan aroma yang menerbitkan liur. Saya dekati saja lelaki yang bertugas menaruh kepala-kepala ikan itu di piring.

“Boleh saya foto ya, Pak?” saya meminta izin dulu sebelum memotret.

“Oo, ya, silakan saja,” katanya tersenyum ramah.

Saya pun mengambil beberapa gambar sambil terpukau dengan besarnya kepala ikan yang diangkat dari kuali itu. Piringnya saja lebar begitu. Wah!

Selesai menjepret, saya kembali ke kursi. Tak berapa lama, 2 porsi gulai kepala ikan yang kami pesan pun datang. Waaw…besar sekali! Saya tak yakin bisa menghabiskan seporsi ini sendiri. Suami saya pun akhirnya merasa begitu, setelah sebelumnya ia yakin bisa menghabiskan seporsi untuk dirinya sendiri. 😀

Ini dia!

Ini dia!

Kepala ikan itu begitu padat dagingnya. Padahal itu adalah kepala ikan yang sudah dibelah dua. Aromanya…hmmm…memang berbeda dengan gulai kepala ikan biasa. Apalagi ada daun ruku-ruku yang membuat tampilannya berbeda dari yang lain. Makannya dengan nasi panas dan telur dadar gembung. Alhamdulillah…mantapnyaaa…

Lewat zuhur, acara makan pun selesai. Kami hanya sanggup menghabiskan seporsi, sementara seporsi lagi dibungkus untuk dibawa pulang, dinikmati bersama keluarga di Bukittinggi. Kami menambah satu porsi lagi untuk diberikan ke sepupu suami sebagai oleh-oleh karena akan berkunjung ke rumahnya. Pada saat akan pulang, gulai kepala ikan itu ternyata sudah habis. Wow, cepat sekali! Saat ditanya ke uni di meja kasir, jumlah kepala ikannya setiap hari memang sangat terbatas. Hanya 20 kg, yang berarti hanya tersedia 40 potong kepala ikan. Wah, syukurlah kami datang tepat waktu.

Lengkap sudah rasanya kalau sudah berkunjung ke sana. Malah ada niatan kalau kapan-kapan ke Padang lagi, kunjungan ke RM Keluarga ini dijadikan sebagai kunjungan wajib wisata kuliner kami. Yah, semoga saja bisa kembali lagi suatu hari… 🙂

Abis makan, ya pose dululah ya..sebagai kenang-kenangan udah pernah ke sini..hihih..

Indonesia bagoooss..eh, gulai kepala ikannya enaaakk.. 😀

***

>> Semua foto adalah dokumentasi pribadi (AFR).

Previous Post Next Post

You may also like

17 Comments

  • Reply nyapurnama

    aaaakkkk.. aku suka banget gulai kepala ikan kakap.. biasanya kalau di Bandung kan 1 kepala gitu Mbak, dan ga segede gitu, udah berasa gede banget. Apalagi yang ini yaah..
    pengen banget nyobain masakan Padang di padangnya langsung… ihihik *kemudian langsung ngeces*

    April 16, 2014 at 7:23 pm
    • Reply annisarangkuti

      hehehehe..maaaakk, hayuk ke Padang, maaakk..pokonya puas makan kepala ikan di RM Keluarga ini.. 😀 *saya juga jadi ngences lagi..

      April 16, 2014 at 11:29 pm
      • Reply nyapurnama

        Pengeeeennnn, alesan utama pengen ke Padang ya itu pengen makan nasi padang… hahaha *ikutan ngeces* *tengah malem tiba-tiba ngebayangin rendang* hahahah 😀

        April 17, 2014 at 12:18 am
        • Reply annisarangkuti

          Yaiya, mak..trus kalo ke Bandung pengen makan masakan Sunda emang..hihihi..kalo aku bayangin via via cafe, mak.. *ini tengah malem belum tidur gara2 bayangin makanan.. -___-“

          April 17, 2014 at 12:45 am
          • nyapurnama

            Yuk ke Bandung yuuuk Mbak, nanti aku anterin cari jajanan unyu yang paling hits… x)))

            April 17, 2014 at 1:08 pm
          • annisarangkuti

            hehehe..amiinn bisa ke Bandung lagiii.. 😀

            Aku waktu itu nyobain mie reman yg di Braga, mak..seru sih ya makannya..hahah..jadi pengen makan itu lagi nih..hiks..

            April 19, 2014 at 7:27 am
          • nyapurnama

            Murmer sih ya Mbak.. hahaha
            tapi hindari makan di sana malam minggu karena penuhnya gilaks dan biasanya jadi ga nak gitu makanannya hiks

            April 19, 2014 at 2:15 pm
          • annisarangkuti

            hihih..aku diajak sepupuku, mbak..dia milihnya di situ, ternyata mie ramen di sana banyak ya..asik bgt.. 😀

            April 24, 2014 at 12:11 pm
  • Reply Nunu El Fasa

    Yaaah…. ngenceees nih iler :,)

    April 16, 2014 at 10:12 pm
    • Reply annisarangkuti

      hehehe..mesti nyobain langsung nih berarti, maak.. 😀

      April 16, 2014 at 11:29 pm
  • Reply Hidayah Sulistiyowati

    Duh mbak tulisanmu bener2 berhasil membuat liurku netes *penyuka gulai kepala ikan ^_°

    April 17, 2014 at 10:19 am
    • Reply annisarangkuti

      Aiiihh..itu pertanda kalo mak mesti wisata kuliner ke siniiii.. 😀

      Makasih udah mampir ya, maak.. 🙂

      April 19, 2014 at 7:23 am
  • Reply Ditter

    Woh ya ampun, wajan atau kualinya gede bangett…. :O

    Dan itu kepala ikannya juga gedeee…. :O

    April 24, 2014 at 9:31 pm
    • Reply annisarangkuti

      hahaha..emang serba gede semuanyaa.. 😀

      makasih udah mampir ya.. 🙂

      April 29, 2014 at 10:50 pm
  • Reply Apa Jadinya Hidup Ini Tanpa Rumah Makan Padang? | Menulis Mimpi

    […] rumah makan ini melewati Teluk Bayur, tak seberapa jauh dari Padang. Ah, lengkapnya sila baca di sini saja ya. […]

    March 1, 2015 at 9:57 am
  • Reply Lenky Prayudi (@keyprayudi)

    wahh ne rumah makan gulai ikannya emang enak,dulu sekitar 2012 pernah mampir disini sewaktu perjalanan ke painan,waktu itu ksana udh malam tp masakannya masih segar…

    September 25, 2015 at 9:39 am
    • Reply annisarangkuti

      Wah..kalo udah malem gulai kepala ikannya udah abis dong ya.. 🙂 Saya waktu itu cuma nyobain kepala ikannya aja, ga nyobain menu lainnya. Menu lainnya juga enak ya?

      October 20, 2015 at 11:15 am

    Leave a Reply

    %d bloggers like this: