Sisi Lain

Menapak Jejak Digital dengan Personal Branding

 

JUJUR ya, saya baru ngeh tentang personal branding beberapa tahun setelah saya aktif sebagai blogger Kompasiana (Kompasianer). Sebelum itu, mana mau tahu saya tentang branding mulai dari nama akun sampai konten tulisan yang lebih sering ditulis. Tahu niche blog saja pas ikutan eventΒ berbagi ilmu di sebuah komunitas blog 3 tahun lalu. πŸ˜‚

 

Tahunya ngeblog di Kompasiana ya cuma menulis suka-suka. Saat ingin berfiksi, saya menulis fiksi. Saat ingin cerita tentang perjalanan, ya tinggal saya tulis pengalaman saat melakukan perjalanan itu. Waktu ingin lebih serius, saya lebih suka menulis yang berbau religi. Begitulah.

 

Hingga seorang kawan kompasianer menulis profil saya di akunnya. Semacam menulis “Sosok”, begitu. Duh, saya jadi tersanjung πŸ˜„ Saya dianggapnya sebagai fiksianer (kompasianer penulis fiksi) yang tulisan-tulisan fiksinya disukai banyak pembaca. Tentu saja itu dari sudut pandangnya sendiri. Hehe.

 

Dalam hati sebenarnya, “Ah, masak iya sih saya sebegitunya? Tapi kok seneng juga?” πŸ˜† Tapi betul loh. Perasaan konten saya di akun Kompasiana itu masih sangat beragam. Mungkin, mungkin karena beberapa tulisan fiksi saya sempat nangkring di HeadlineΒ dan belum banyak penulis fiksi di sana waktu itu, jadi beliau menganggap saya terlalu “wah” seperti itu.

 

 

Gara gara tulisannya itu, nama akun saya yang pakai nama asli itu jadi sering dikaitkan dengan dunia fiksi. Padahal tulisan fiksi saya bisa dihitung cuma beberapa. Hahaha. Seiring waktu, sayapun mulai jarang menulis fiksi. Lebih sering menulis tema lain, khususnya inspirasi. Apalagi mulai banyak bermunculan fiksianer hebat yang lebih layak disebut sebagai fiksianer sejati. Bahkan tulisan tulisan fiksi mereka sudah tembus ke berbagai media cetak nasional.

 

Nama akun “Annisa F Rangkuti” di Kompasiana itu terus berlanjut menjadi nama akun di mana-mana di dunia maya. Saya tak sungkan menggunakan nama asli karena ingin orang-orang mengenal saya ya karena itu karya saya. Annisa F Rangkuti yang sama, baik di dunia nyata maupun dunia maya. Syukurnya nama saya itu masih available saat saya ingin menggunakannya untuk username e-mail, media sosial maupun blog. Jadilah, semua akun yang saya punya memakai nama asli saya sendiri.

 

Waktu memutuskan untuk membuat blog pribadi di wordpress, judul blognya belum memakai nama saya seperti sekarang. Saat itu header-nya masih berbunyi “Menulis Mimpi. Karena segalanya berawal dari mimpi dan inspirasi”. Kurang ahsek gimana coba? πŸ˜†

 

Niat awal pembuatan blog pribadi itu sebenarnya untuk menampung draft tulisan bakal buku memoar tentang ayah saya. Jadi saya mengunggah draft demi draft agar bisa dinilai langsung oleh calon pembaca. Waktu itu lagi happening-nya nulis buku kolaborasi maupun solo. Menulis buku adalah prestasi. Menulis buku adalah sebuah kemewahan. Sampai sekarang pun saya kira masih ya. Hehe..

 

You are your own brand (Template by Canva)

 

Setelah 3 tahun, draft itu pun mewujud menjadi buku yang terbit dari penerbit indie. Buku yang diniatkan sebagai persembahan untuk ayahanda. Dijual atau diberikan pada siapa saja yang mau membacanya. Penggarapannya sebenarnya belum seketat layaknya prosedur menerbitkan buku. Tapi lumayanlah buat penulis indie pemula macam saya. Yang paling penting buat saya, ayah saya bisa tersenyum bahagia dengan hadirnya buku itu.

 

Lambat laun isi blog Menulis Mimpi itu tak hanya draft memoar itu saja. Mulailah saya menulis apa saja. Kebanyakan sesuai tagline-nya; tulisan inspirasi dan cerita tentang impian-impian dalam hidup.

 

Sempat vakum beberapa tahun seperti cerita saya sebelumnya, saya lalu berkeinginan untuk memiliki rumah baru bagi blog saya. Make the new me. Mulai muncul keinginan memiliki blog bernama saya dengan dotkom di belakangnya. Demi mewujudkannya, saya pun mendelegasikan tugas itu ke seorang teman blogger.

 

Sempat terpikir untuk tetap memakai tagline “Menulis Mimpi”, tapi teman saya itu menyarankan pakai nama sendiri yang sudah eksis saja. Maksudnya nama yang orang sudah lama tahu kalau itu adalah saya, blogger yang sempat sangat aktif di Kompasiana. Akhirnya saya setuju dan memakai nama sendiri dengan pertimbangan mulai ingin membangun personal branding. Toh, semua akun media sosial dan e-mail saya juga sudah memakai nama serupa. Jadi sudah lebih mudah sebenarnya.

 

Demi kembali mencoba eksis di dunia blogging, saya sampai membuat akun kedua di Instagram dengan menukar username-nya dengan akun lama saya. Karena saat membuat akun kedua itu, ternyata akun @annisarangkuti di IG sudah unavailable. Sudah ada yang pakai alias nama saya sebenarnya pasaran juga. Hahaha.

 

 

Jadilah tukar guling dengan nama akun baru @annisarangkuti18 di akun lama saya. Akun kedua (yang memakai username akun lama) @annisa_rangkuti saya set public. Sementara akun satunya di-set private demi kenyamanan emak buat eksis dengan anak dan keluarga πŸ˜†πŸ˜‚

 

Jadi begitulah. Blog dengan username dan judul bernama saya sendiri ini adalah impian lain yang mewujud nyata. Impian sederhana sebenarnya. Sesederhana keinginan untuk bisa terus menulis dan memetik hasilnya di kemudian hari, berupa kesejahteraan lahir batin sampai saatnya berpulang ke haribaan Ilahi dengan (semoga) membawa amal jariyah.

 

Diharapkan dengan begitu semangat saya menulis makin menyala dan terus menyala, seiring dengan semakin banyaknya orang-orang yang mengingat nama tersebut dari karya karya positif yang saya hadirkan untuk dunia.

 

Semoga ya. Mari kita aamiin-kan saja. Aamiin.. 😁😊

 

***

 

Ditulis untuk tema hari ke-3 Blogger Perempuan Network 30 Days Challenge 2018 (BPN30DayChallenge2018).

Previous Post Next Post

You may also like

Leave a comment

Leave a Reply

%d bloggers like this: