Uncategorized

“Marsipature Hutanabe” Lewat Media Blog

SEBELUMNYA tak pernah terbayangkan kalau saya akan menikah dengan seorang laki-laki Minangkabau lalu merantau ke kampung halaman saya sendiri.

Merantau? Ke kampung halaman? Haha. Bagaimana ceritanya?

Hmmm.. begini. Saya perempuan asli Mandailing. Ayah saya bermarga Rangkuti, yang otomatis marga warisan itu akan tersemat di belakang nama saya. Ayah menikah dengan ibu yang bermarga Harahap. Mereka menikah dan tinggal di Padangsidimpuan, dekat tempat kelahirannya juga.

Kami, keenam anaknya pun, lahir di sana. Kecuali saya si bungsu, abang dan kakak-kakak saya sempat mencicipi bangku sekolah di kota salak itu sebelum ayah memboyong kami semua pindah ke Medan saat saya berumur 4 tahun. Jadilah, saya menempuh pendidikan TK sampai universitas di Medan.

Menikah dengan lelaki Minangkabau tentu sempat melambungkan harapan agar kelak kami berdiam di Sumatera Barat atau paling tidak di Medan saja. Tapi ternyata pada akhir 2009, saya mengikut suami yang sedang menjalani stase luar kotanya sebagai dokter PPDS di Panyabungan, Mandailing Natal.

Tak disangka, waktu 6 bulan yang sempat saya anggap akan banyak tersia-sia dengan aktivitas tak berarti karena saya saat itu baru berstatus sebagai istri, belum menjadi seorang ibu, berubah total ketika saya mengenal Kompasiana. Social blog yang saat itu baru berusia muda, menarik perhatian saya saat asyik berselancar di internet tanpa tahu harus mencari apa. Haha.

Saya mulai mengirim satu tulisan, dua tulisan, lalu banyak lagi tulisan lain yang entah kenapa terasa begitu saja mengalir. Saya mulai kenal banyak teman kompasianer (sebutan blogger Kompasiana), yang membuat saya semakin dekat dan candu dengan Kompasiana.

Kompasiana menjadi wadah saya menjadi jurnalis warga yang membuat saya seperti tak pernah kehabisan ide untuk menuliskan apa saja yang saya lihat dan dengar dari sekeliling. Sepanjang hari waktu saya nyaris lebih banyak dihabiskan di depan laptop. Saya seperti menemukan hasrat yang lama terpendam. Memunculkan impian lama saya untuk menjadi seorang penulis. Cinta lama pada dunia tulis menulis pun bersemi kembali.

Kebiasaan menulis di Kompasiana itu masih terus berlanjut sampai saya dan suami kembali ke Medan. Berlanjut hingga di tahun-tahun berikutnya, ketika akhirnya suami lulus pendidikan sebagai dokter spesialis dan memilih tempat bertugas di daerah Tapanuli Bagian Selatan (Tabagsel), wilayah kampung halaman saya. Sebutlah Panyabungan, Sibuhuan, Gunung Tua, sampai ke Bagan Siapi Api-Riau, pernah kami jelajahi. Hingga akhirnya suami memilih kampung halaman saya, Padangsidimpuan, untuk bermukim lebih lama.

Maka sempat terasa lucu bagi saya yang notabene aslinya sebagai anak Padangsidimpuan ini. Tumbuh dan besar di kota besar, namun ketika berkeluarga dan dikaruniai anak kembali ke kampung halaman. Tapi kemudian saya bersyukur, ada banyak hal positif yang sebenarnya bisa saya dapatkan. Hal positif itu mulai terasa saat saya pertama kali mukim sementara di Panyabungan dulu.

Ada beberapa tulisan saya di Kompasiana yang idenya berasal dari cerita kampung halaman, yang kemudian diapresiasi dan membuat saya bangga kini tinggal di wilayahnya. Seperti tulisan saya tentang pengalaman menyeruput kopi takar di salah satu rumah makan di Panyabungan. Pengalaman pertama minum kopi dengan cangkir dari batok kelapa (takar, bahasa Mandailing) dan sedotan dari kayu manis, membuat tulisan itu sempat bertengger di halaman muka kompas(dot)kom di rubrik travel. Saya sebagai blogger pemula tentu senang bukan kepalang ketika untuk pertama kalinya tulisan saya dibaca ribuan orang.

Kopi takar (dok. AFR)

Lalu ketika Kompasiana menggelar lomba menulis blog yang diikuti hampir semua kompasianer, sampai-sampai server-nya error karena banyaknya tulisan yang masuk. Di lomba blog yang saya ikuti pertama kali itu tulisan saya berhasil nyangkut sebagai pemenang hiburan saja, tapi tetap tak mengurangi kebanggaan saya karena saya menulis tentang potensi wisata sejarah di makam leluhur marga Rangkuti.

Tugu penanda menuju makam leluhur marga Rangkuti, Datu Janggut Marpayung Aji, sebelum & setelah dipugar (foto dari halaman grup “Parsadaan Marga Rangkuti Indonesia” dan “Bagas Godang Rangkuti Dohot Anak Boruna”)

Tulisan itu hasil kunjungan saya ke kampung halaman ayah di Desa Aek Marian, Mandailing Natal. Yang semakin membuat saya terharu adalah ketika tulisan itu dijadikan sebagai salah satu referensi pelengkap bagi persatuan marga Rangkuti Indonesia-Malaysia, yang semakin hari semakin giat menumbuhkan gerakan cinta kampung halaman.

Makam leluhur marga Rangkuti, Datu Janggut Marpayung Aji (foto dari halaman grup “Parsadaan Marga Rangkuti Indonesia)

Dalam beberapa tahun, persatuan warga Mandailing bermarga Rangkuti itu akhirnya berhasil memugar makam leluhur Datu Janggut Marpayung Aji menjadi lebih bersih dan tertata. Sejalan dengan harapan yang pernah saya tuliskan di unggahan tulisan lomba itu.

Lain waktu, tulisan saya tentang tradisi mengemukakan pikiran, saling menasihati dan bermaafan khas Mandailing, “markobar/makkobar”, yang lazim ada di acara pernikahan, hari raya Idul Fitri, atau acara istimewa lainnya, terpilih mengisi kolom utama di rubrik Kompasiana Freez Kompas cetak pada 23 Agustus 2012.

Sungguh membuat haru dan bangga, ketika seorang saudara mengabarkan menemukan tulisan saya itu dalam penerbangannya ke Medan. Buat blogger pemula, tulisan yang ditayangkan di media nasional macam Kompas dan tentu berkesempatan dibaca oleh banyak orang pastilah membuat level kepercayaan diri meningkat beberapa ratus persen. πŸ˜†

Tradisi Markobar/Makkobar di keluarga Mandailing (dok. AFR)

Demikian pulalah yang terjadi pada beberapa tulisan saya lainnya yang bertopik kampung halaman. Ada yang menang lomba, tak jarang pula muncul di halaman utama kompasiana. Tak pun di kompasiana, di blog pribadi saya sebelum ini (www.annisarangkuti.wordpress.com/) tulisan tentang kekayaan alam dan budaya daerah Mandailing dan Minangkabau sering menarik minat pengunjung untuk membacanya.

Ya, tak hanya kampung halaman saya, tulisan berlatar kampung halaman suami di Bukittinggi pun kerap naik ke posisi halaman utama kompasiana. Tampaknya tema berbau keragaman budaya dan kuliner suatu daerah tetap menjadi salah satu tema menarik, apalagi bila kisahnya berasal dari daerah yang jarang diekspos di media nasional.

Pada satu titik, saya mulai menyadari gairah penulisan saya yang lebih condong pada penulisan bertema kekayaan dan keragaman budaya, khususnya kampung halaman. Lagipula, sependek pengetahuan saya, belum banyak penulis atau narablog yang mengkhususkan dirinya menulis di ranah itu. Semacam jurnalis warga yang melaporkan dan bercerita tentang banyak kisah inspiratif dari keluhuran adat istiadat dan budaya masyarakatnya.

Tentu bila setiap narablog menuliskan kisah tentang daerah tinggalnya dengan dilengkapi sepenggal catatan sejarah tentang itu, bukan tak mungkin kisah-kisah yang dituliskannya akan memantik semangat cinta tanah air dan bangga akan kekayaan serta keluhuran budaya Indonesia yang seyogyanya dilestarikan generasi muda.

Harapan di Tahun 2019

Sempat vakum menulis blog selama lebih kurang 3 tahun dan baru saja aktif kembali beberapa bulan yang lalu, saya terpanggil untuk mengikuti lomba blog yang diadakan narablog Nodi Harahap ini. Menulis ini seolah memanggil hati saya untuk kembali lebih banyak menulis hal apa saja yang dirasa menarik dan berfaedah untuk dibagikan dari kampung halaman. Mukim di kampung halaman ternyata bisa menjadi sumber berkah dan kebahagiaan tersendiri, terlepas dari keinginan untuk menikmati geliat hidup modern ala kota besar yang muncul sesekali.

Memasuki tahun 2019, harapan untuk lebih baik di dunia blogging kembali buncah. Sehingga yang menjadi harapan di tahun 2019 ini termasuk juga adalah meningkatkan keterampilan khusus sebagai blogger, berinovasi dalam menciptakan ide konten kreatif, memperluas jaringan pertemanan sesama blogger, dan memperluas media penyampaian ide lewat videoblog (vlog). Sebelumnya pernah saya tuliskan tentang target blogging saya di sini. Semoga saja tak hanya gagasan yang mudah tertiup angin. Aamiin..

Sejatinya, pemantik ide dari semua yang saya tuliskan ini adalah karena saya teringat slogan yang dicanangkan Gubernur Sumatera Utara ke-13, (Alm) Raja Inal Siregar, “Marsipature Hutanabe“, yang maknanya “Mari benahi kampung halaman masing-masing”. Makna ini buat saya sebagai seorang narablog bisa diperluas menjadi “mari mewartakan kisah-kisah tentang keragaman budaya dan adat istiadat di kampung halaman lewat media blog“. Dengan menulis di blog, kita sudah bersumbangsih untuk turut serta menorehkan hal-hal positif tentang kekayaan alam dan budaya Indonesia.

Di tengah arus globalisasi yang semakin menyamarkan batas-batas budaya barat dan timur, seorang narablog yang bercerita tentang kampung halamannya sendiri bergerak mengabadikan kekayaan alam, budaya, dan adat istiadatnya lewat tulisan agar mata rantai kelekatan dan kecintaan terhadap budayanya sendiri tak putus di generasi masa depan.

Semoga!

***

Previous Post

4 Comments

  • Reply Joe Candra

    Wah aku pengen nyobain kopi pke cangkir batok kelapa kak, sepertinya asyik hehe

    January 30, 2019 at 12:12 am
    • Reply Annisa Rangkuti

      Hehe.. Mari kemari, Bang Joe.. πŸ˜„πŸ˜ Kapan2 mampir ke Medan, di sana juga udah ada. Entah di Jakarta juga udah ada ya.. 😊

      February 1, 2019 at 6:27 pm
  • Reply Nabilla DP

    Salam kenal, mbak. Wah, keren banget pencapaiannya di Kompasiana. Saya juga kalau nulis terus jadi tulisan pilihan juga seneng banget hehe. Semoga terus konsisten ya mba dan terus menuliskan kekhasan daerah di blog ini πŸ™‚

    February 1, 2019 at 10:38 pm
    • Reply Annisa Rangkuti

      Hehe..semoga, mbak. Aamiin.. Makasih apresiasinya, mbak Nabilla.. 😊

      February 2, 2019 at 7:02 am

    Leave a Reply

    %d bloggers like this: