Sisi Lain

Kenangan Ala “Little House on the Prairie”

PERNAH suatu kali waktu saya, ayah, ibu, dan kelima saudara saya yang lainnya pergi ke rumah saudara untuk bersilaturrahim. Waktu itu Minggu pagi, saatnya bagi kami sekeluarga berjalan-jalan di akhir pekan. Sebelum ke tempat tujuan, kami singgah sejenak ke rumah saudara saya itu yang saya panggil “nenek”. Jadi dalam tutur Mandailing, laki-laki dan perempuan sama-sama dipanggil “nenek”. Membedakannya dengan menyebutkan “nenek laki-laki” dan “nenek perempuan”. Kenapa tidak panggil yang laki-laki “kakek” saja? Entahlah, saya pun tak paham. ๐Ÿ˜…

 

 

Putri bungsu nenek saya itu, yang dalam tutur sebenarnya saya panggil “tante” tapi karena usianya beda 2 tahun lebih muda dari saya, jadi saya panggil namanya saja biar gampang. Hehe. Jadi tante kecil saya itu sempat berkata begini,

 

“Enak ya kalian. Sering jalan-jalan. Kami mana pernah.” Saya yang waktu itu masih SD, malah heran. Ah, masa’ iya saudara saya yang tergolong berada ini tak pernah jalan-jalan? Liburan gitu? Kasihan amat.

 

“Iyaa. Kami nggak pernah tuh tiap Minggu jalan-jalan kayak kalian,” sambung kakaknya, yang lebih tua dari saya. Nampak kesan iri dari wajah mereka berdua. Wah, berarti memang benar kalau mereka tak pernah atau jarang diajak jalan-jalan.

 

Saya ingat sekali situasi waktu itu. Kami sedang mengobrol di teras, menunggu orangtua saya bercakap dengan kedua nenek saya itu di ruang tamu. Sambil mengobrol, kami menikmati mayong, jajanan pasar yang lewat di depan rumahnya.

 

Saat mendengar kata-kata mereka itu, saya cuma tersenyum, tak tahu mau bilang apa. Dalam hati saya bersyukur, ayah dan ibu saya tipe yang suka jalan-jalan, sedekat dan sesederhana apapun tempat tujuannya. Sesampainya di tempat tujuan biasanya kami makan bersama, menikmati hidangan yang kami bawa dari rumah. Maklum, keluarga besar, jadi biar lebih hemat dibandingkan makan sekeluarga di restoran, begitu. ๐Ÿ˜

 

Little House on the Prairie (http://www.liwfrontiergirl.com/tv.html)

 

Jalan-jalan kami di dalam kota saja. Sesekali baru jalan ke tempat yang agak jauh, ke Sibolangit atau Brastagi yang jarak tempuhnya 1 atau 2 jam dari Medan. Jalan-jalan terjauh kami adalah saat (nyaris) keliling Pulau Jawa pada tahun 1987. Dengan mobil Mitsubishi Colt jadul, kami bersembilan plus seorang supir sukses menjelajahi banyak kota di Pulau Jawa dengan niat liburan sekaligus bersilaturrahim dengan beberapa saudara yang tinggal di sana.

 

Saya waktu itu masih berumur 4 tahun. Tak terlalu banyak yang diingat. Tapi setidaknya memori saya menyimpan beberapa kenangan manis selama di perjalanan itu ketika mendengar kembali ceritanya dari ayah dan ibu saya.

 

Adapun tujuan favorit kami di hari Minggu adalah sebuah daerah peternakan sapi di daerah Tuntungan. Tempat itu berupa lapangan rumput luas dengan kandang sapi yang dalam ingatan saya mirip bangunan sekolah, berkelas-kelas. Juga ada sapi-sapinya, tentu saja. Pagi-pagi ke sana untuk olahraga jalan kaki, naik sepeda, dan sempat juga kakak tertua saya waktu itu, belajar naik motor. Udaranya bersih, segar, dikelilingi pepohonan hijau sejauh mata memandang.

 

Kami berjalan berkeliling tempat itu kecuali ibu dan nenek. Mereka berdua hanya duduk-duduk di atas tikar yang digelar di dekat mobil, menjaga barang-barang. Kami enam bersaudara bersama ayah akan berkeliling tempat itu. Berjalan kaki disinari mentari pagi yang hangat. Setiap akan mendekati kandang sapi, saya melewatinya dengan takut-takut. Takut sapi-sapi itu tiba-tiba berbalik dan mengejar saya. Haha.

 

Dalam ingatan masa kecil saya, suasana di sana mirip dengan setting drama seri jadul TVRI yang kerap kami tonton. Kisahnya berdasarkan cerita yang ditulis Laura Ingalls, Little House on the Prairie, kisah keluarga cemara versi bule. Hehe. Sebuah rumah kecil di tengah padang rumput yang luas, indah, dan jauh dari kota. Ada ayah, ibu, dan ketiga putri kecilnya, yang kemana-mana selalu naik kereta kuda. Duh, indahnya.

 

 

Namanya ingatan masa kecil, ya. Tentu saja lapangan rumput di Tuntungan itu tak terlalu mirip dengan drama seri di TV itu. Saya masih ingat ada ranjau-ranjau berupa kotoran sapi yang menyebar di mana-mana. Haha. Kalau masih basah, baunya bercampur dengan udara segar. Tapi begitulah. Kenangan berhari Minggu dengan keluarga itu yang membuat semua yang tampak jadi lebih indah.

 

Di rumput yang bersih dan masih basah oleh embun, kami sarapan bersama di atas tikar. Ibu saya pagi-pagi sekali sudah memasak menu sarapan untuk kami bersembilan. Menunya sederhana saja. Paling ada 3 macam. Sesekali kami membeli lontong atau menu sarapan lain yang dibeli sebelum berangkat.

 

Pulangnya menjelang siang. Dulu rasanya ke sana itu jauh sampai ke luar kota. Padahal masih di area Medan juga. Hanya saja memang tempatnya masih sepi. Tak banyak orang yang berkunjung ke tempat itu. Seringnya cuma kami sekeluarga saja. Mungkin orang lain malah heran kalau ada keluarga yang berwisata akhir pekan ke sana. Haha.

 

Kenangan berakhir pekan di daerah peternakan itu adalah salah satu ingatan yang membekas kuat, menorehkan kenangan manis tentang keluarga saya di akhir tahun 1980-an. Pada tahun 1991 kakak sulung saya menikah saat saya masih SD kelas 2. Saya lupa apakah rutinitas itu masih tetap berlanjut atau tidak setelah kakak saya menikah. Lupa pula kapan berakhirnya. Sekarang pun saya tak tahu juga tempat itu masih jadi peternakan sapi atau sudah berubah fungsi. Sudah lebih 20 tahun yang lalu tak pernah ke sana lagi.

 

Bagaimanapun, semua akan berakhir di kotak kenangan. Dan saya memilih kenangan yang satu ini sebagai bekal saya menjadi ibu, menjadi orangtua. Bahwa penting sekali menorehkan ingatan manis pada anak tentang keluarga, sesedehana apapun itu.

 

***

 

Ditulis untuk tema ke-25 Blogger Perempuan Network 30 Day Challenge 2018.

Previous Post Next Post

You may also like

4 Comments

  • Reply innaistantina

    Kotak kenangan yang begitu indah memorinya ya mbaa

    December 16, 2018 at 11:30 pm
    • Reply Annisa Rangkuti

      Iyaa, mbak Inna. An everlasting memory.. โค๐Ÿ˜Š

      January 19, 2019 at 1:15 pm
  • Reply Janice Dirga

    Baca ini rasanya kaya lagi mendengar dongeng anak2..hamparan rumput dan suasana alamnya terasa nyata sekali dari ceritanya Mbak..what a beautiful scenery and memories๐Ÿ˜

    December 17, 2018 at 9:43 am
    • Reply Annisa Rangkuti

      Iyaa, mbak Janice. Apalagi pas nonton musik opening โ€œLittle House on the Prairieโ€nya di Youtube. Waaa..rasanya kangeen kembali ke masa itu ๐Ÿ˜๐Ÿ˜

      January 19, 2019 at 1:15 pm

    Leave a Reply

    %d bloggers like this: