Inspirasi

Berani Lebih Asertif Tanpa Rasa Bersalah

http://www.newdirectionsconsulting.com/leadership-engagement/the-upside-of-no-9-tips-to-saying-no-assertively/

http://www.newdirectionsconsulting.com/leadership-engagement/the-upside-of-no-9-tips-to-saying-no-assertively/

SAYA masih ingat betul kata-kata seorang teman saya waktu kuliah.

“Jadi orang jangan terlalu baik, Nis..”

Hah? Terlalu baik? Waktu itu tentu saja saya bingung dengan ucapannya. Bukankah baik untuk selalu berusaha berbuat baik?

“Iya, tapi jangan jadi terlalu baik,” tegasnya lagi.

“Ada saatnya kamu bilang tidak setuju atau tidak suka dengan suatu hal. Jangan nerima aja,” katanya lagi.

Hmmm…saat itu saya cuma mendengarkan saja, tanpa mengerti benar dengan apa yang disampaikannya itu.

Sekali-sekali, saya ingat lagi kata-katanya itu. Terutama waktu saya merasa dimanfaatkan teman sehingga mau disuruh ini itu, padahal dia sendiri bisa melakukannya. Atau saat saya diam saja saat teman yang lain berkata sinis pada saya. Bisa dibilang mem-bully dengan mempermalukan saya di depan teman-teman yang lain. Sudah mirip adegan sinetron mungkin. 😀 Oh ya, tentang bully mem-bully ini, seingat saya, saya pernah mengalaminya beberapa kali. Sejak SD. Yah, dulu memang saya termasuk anak yang kurang percaya diri, pendiam dan pemalu dalam segala hal. Kalaupun ada teman yang mengejek saya, saya diam saja. Paling sampai di rumah menangis dan curhat di buku harian. Hehehe..

Saya tak pernah mengadukan bullying itu pada siapapun, termasuk kedua orangtua saya. Saya menyimpannya sendiri, menangisi, lalu mengobati “luka”nya perlahan-lahan. Entah kenapa, saya seperti tak berdaya untuk melawan atau sekadar membalas perlakuan yang tidak menyenangkan itu. Senjata saya cuma menangis diam-diam dan curhat di buku harian. Hikmahnya, buku harian saya jadi penuh dan saya jadi suka menulis. 😀

Seiring waktu, apalagi sejak saya kuliah di Psikologi, saya mulai merasa ada sikap saya yang tidak beres. Saya selalu menerima perlakuan buruk orang lain dan selalu berusaha menyenangkan mereka tanpa peduli perasaan saya sendiri. Kalau ada sesuatu yang tidak sesuai, saya yang lebih dulu merasa bersalah. Aiihh..karakter seperti apa ini? Nggak banget! Mau-maunya dijajah orang lain.

http://blogs.mutualofomaha.com/articles/2013/09/03/measuring-assertiveness/

http://blogs.mutualofomaha.com/articles/2013/09/03/measuring-assertiveness/

Saya kemudian banyak membaca buku, mencari tahu tentang yang tidak beres itu, lalu menemukan satu kata; ASERTIF (perilaku asertif), yaitu suatu kemampuan untuk mengkomunikasikan apa yang diinginkan, dirasakan, dan dipikirkan kepada orang lain namun dengan tetap menjaga dan menghargai hak-hak serta perasaan pihak lain (sumber).

Ooh, ternyata ini sumber masalahnya. Selama ini saya kurang asertif. Kurang mampu menyatakan diri secara jujur dan terbuka sehingga saya bisa mendapatkan apa yang saya inginkan tanpa orang lain merasa keberatan. Win-win solution, istilahnya. Tapi kata tinggallah kata. Saya memang mulai akrab dengan kata asertif itu tapi belum mampu sepenuhnya mengubah diri menjadi lebih asertif. Bagi orang yang kurang percaya diri, memang butuh keberanian lebih untuk menjadi asertif dan keluar dari zona nyaman.

Lama kemudian, setelah saya tamat kuliah dan menyandang gelar psikolog, pelan-pelan saya merasa mulai #BeraniLebih asertif. Awalnya pasti tidak mudah, karena saya harus mulai membiasakan diri menghadapi reaksi yang kadang tak suka dengan perubahan sikap saya. Tapi biarlah. Toh, saya juga ingin bahagia dan nyaman dengan diri sendiri. Dalam hati saya terus bertekad, saya harus terus berusaha menaklukkan diri saya sendiri dengan belajar lebih asertif. Karena menjadi pribadi yang bahagia adalah hak saya juga, kan? 🙂

***

 Akun social media:

Annisa Fitri Rangkuti (facebook)

@annisa_rangkuti (twitter)

lightofwomen

Previous Post Next Post

You may also like

10 Comments

  • Reply belalang cerewet

    Asertif! Ya ini juga PR saya. Mengatakan tegas kepada orang lain tanpa takut menyakiti atau diajuhi sungguh berat. Padahal bersikap asertif ini penting banget. Sepakat dengan pendapat Mbak. Membangun kekuatan dengan sikap yang asertif. Pernah juga saya baca psikolog yang mengatakan bahwa komunikasi asertif harus dibina, dan tidak memilih komunikasi agresif. semoga saya bisa!

    April 30, 2015 at 9:55 am
    • Reply annisarangkuti

      Iyaa..ternyata susah juga ya untuk lebih asertif. Padahal itu salah satu kunci kebahagiaan juga loh, mas..karena kita bisa berpendapat dan melakukan apapun sesuai hati nurani kita tanpa beban..

      Semoga kita bisa ya! 🙂

      April 30, 2015 at 10:18 am
  • Reply Muhammad Zaini

    Sentilan buat diri.
    Thanks ya…

    April 30, 2015 at 2:12 pm
  • Reply Desi Namora

    hmmm, kalo saya liat2 orang2nya mak, kalo agak sensitif mending sabarnya ajah deh dibanyakin hihihi

    April 30, 2015 at 9:47 pm
    • Reply annisarangkuti

      Hehehe..susah emang interaksi sama orang sensitif ya.. 😀 tapi kalo dibiarin kita aja yg ngalah justru kita yg tersiksa..Eeuuhh..

      May 1, 2015 at 6:32 am
      • Reply Desi Namora

        iye mak, nanti belajar assertif khusus bwt org assertif dl ya mak 🙂

        May 1, 2015 at 10:54 am
        • Reply annisarangkuti

          Hehehe..kita sama2 belajar utk lebih asertif yaa, mak Desi.. 🙂

          May 2, 2015 at 1:34 pm
  • Reply Wahyu Blahe

    Welcome Blog M

    June 15, 2015 at 10:41 pm
  • Leave a Reply

    %d bloggers like this: