Inspirasi

Apalah Arti Hidup Ini Tanpa Media Sosial

 

Saya tak bisa membayangkan jika masa-masa saya sekolah sampai kuliah dulu, perkembangan teknologi internet sudah secanggih ini. Tak pasti juga, apakah saya bakal cepat selesai kuliahnya karena limpahan informasi yang sangat mudah dijangkau tanpa harus ke warnet lagi atau malah makin lama membebani orangtua karena kuliah yang tak selesai-selesai akibat keasyikan bermedsos?

 

Media sosial (medsos) memang telah merajai kehidupan kita. Saya pernah nekat detoks medsos, tapi hanya beberapa jam saja. Rasanya tak sanggup jika seharian penuh tak melongok sebentar ke facebook, twitter, atau instagram. Sekadar membaca dan memberi tanda like status, tweet atau postingan foto dan video.

 

Sesekali klik berita yang di-share kawan. Membacanya dengan kekepoan tingkat tinggi, lalu terlibat makin jauh dengan beritanya. Klik sana klik sini. Tahu-tahu sudah berjam-jam asyik sendiri ngobrol dengan dunia virtual. Nyaris melupakan tugas rumah tangga yang sedari tadi menumpuk. Huufft.

 

Seketika tobat. Menyesal. “Duh, nggak lagi-lagi, deh. Huh! Medsos nih bikin waktu terbuang percuma aja!” Lalu pontang-panting menyelesaikan pekerjaan lain tanpa bisa menikmatinya lagi. Emosi pun jadi tak stabil. Jadi mudah sekali menggerutu akan hal-hal remeh temeh yang mungkin terjadi. Perasaan jadi tak menentu. Sepanjang hari jadi kurang nikmat melewatinya. Semua hanya terasa sebagai rutinitas biasa yang tak perlu disyukuri dengan hikmat. Semua berlalu tanpa kesan. Para seleb medsos semakin berjaya dan saya tetap begini-begini saja. Ya nasib.

 

Lalu siklusnya kembali berulang. Tak usah menunggu esok. Lihat saja beberapa jam lagi. Tangan tanpa sadar akan tetap mencari yang namanya smartphone lalu dengan ringannya mengklik lagi sana dan sini. Benarlah, kemudahan itu melenakan, Kawan.

 

Bayangkan saja hal ini terjadi setiap hari pada diri saya, pada diri Anda. Dunia tak pernah lepas dari genggaman. Tanda-tanda Fear of Missing Out (FoMO) makin merajalela. Semua ingin tahu. Semua ingin dibahas. Semua ingin diurusi. Semua, semua, semua ingin dimamah dengan rakusnya tanpa satupun yang tertinggal. Padahal tak semua yang tersaji di medsos bisa memberikan efek positif bagi pikiran dan jiwa. Jika tak hati-hati, dampak buruknya malah membuat kita hanya berkubang pada waktu yang terbuang sia-sia.

 

Fear of Missing Out (FoMO)/(Template by Canva App)

 

Benarlah hasil penelitian yang menyebutkan kalau terlalu lama bermedsos bisa berpengaruh pada kesehatan mental. Rasa cemas, marah, iri, sampai depresi dapat menjangkiti dengan mudahnya jika semua informasi itu dilahap tanpa disaring terlebih dahulu dalam pikiran.

 

Saya pun pernah mengalaminya. Terutama saat Pilpres 2014 lalu, saat di mana banyak orang di medsos rasanya berubah menjengkelkan hingga berujung perubahan status pertemanan menjadi tak lagi berteman. Rasanya karakter asli setiap orang sudah diwakilkan dari capres yang diusungnya. Hahaha.

 

Kalau mengingat itu saya jadi suka geleng-geleng kepala sendiri. Betapa kekuatan medsos bisa menyeret banyak orang ke lembah nista berupa degradasi moral karena saling mem-bully, saling menjelek-jelekkan karena pilihan yang berbeda, dan itu sayangnya masih terjadi di masa jelang pilpres “de javu” saat ini.

 

Syukurlah saya mulai menyadari tak ada gunanya untuk ikut-ikutan saling sikut hanya karena pilihan capres yang berbeda. Netizen insyaf, ceritanya. πŸ˜† Saya merasa tak diuntungkan. Malah orang-orang yang masih aktif dalam perputaran medsos berbau politik, yang kerap mengekspresikan sikap politiknya dengan perilaku negatif, tampaknya lebih banyak merugi terutama dari sisi reputasi. Mungkin bisa jadi tambah populer, tapi populer yang bagaimana?

 

Entah mereka sadar atau tidak, reputasi yang dibangun sekian lamanya perlahan bisa ambruk karena postingan-postingan tendensiusnya di media sosial. Tapi begitulah. Siapapun bisa mengalami hal yang sama. Terkadang sulit memang mengendalikan hati dan pikiran agar tetap jernih demi melihat seliweran konten yang tumpah ruah di media sosial. Sungguh, lama kelamaan otak dan hati sebening kaca pun bisa terkontaminasi.

 

Kita mungkin tak pernah bisa menjauh dari media sosial. Media sosial tetaplah media sumber informasi yang bisa memudahkan kita jika disikapi dengan bijak. Ia tetap memiliki sisi positif yang bisa mengubah seseorang menjadi lebih baik. Tinggal bagaimana kita mampu menyaring beragam aliran informasi yang tampak di depan mata atau mengalihkan fokus pikiran hanya untuk hal-hal positif saja.

 

Itu pulalah sebab mengapa saya memilih kembali ngeblog. Setidaknya dengan ngeblog, waktu yang digunakan untuk bermedsos terasa lebih berfaedah. Lebih fokus untuk peningkatan kualitas konten, lebih fokus untuk pengembangan diri. Bermedsos pun jadi terasa lebih nyaman. Asalkan tetap sadar diri untuk membatasi waktu penggunaannya.

 

***

 

Ditulis untuk tema hari ke-5 Blogger Perempuan Network 30 Days Challenge 2018.

Previous Post Next Post

You may also like

Leave a comment

Leave a Reply

%d bloggers like this: