Jalan-Jalan

Apa Enaknya Tinggal di Daerah?

dok. AFR

dok. AFR

Emang enak tinggal di daerah? Nggak ada mall, nggak ada jajanan enak, nggak bisa nonton film di bioskop, dan semuanya serba terbatas. Emang enak?

Begitu biasanya arti tatapan, ekspresi dan kata-kata yang langsung terucap dari orang-orang ketika tahu saya ikut suami yang bertugas di daerah. Saya cuma nyengir. Mungkin bagi orang-orang yang biasa hidup dan bergantung pada kehidupan serba ada di kota besar sana, hidup di daerah akan cenderung membosankan. Lha nggak ada apa-apanya ini. Mau ikut event-event yang asik-asik juga jauuuhh. Jadilah kehidupan cuma di sekitar rumah, pasar, dan jalan-jalan alakadar keliling kota kecil -kalau nggak mau dibilang kampung. Oh my…kalau nggak kuat-kuat iman dan “berjiwa kampungan”, bakal stress.

Tapi Alhamdulillah, sejauh ini, sesudah dua tahunan ini mukim di dua tempat yang berbeda, saya enjoy-enjoy aja. Malah keasyikan kayaknya. Saya jadi “candu” melihat pemandangan-pemandangan hijau yang ada di mana-mana. Angin segar, langit biru, dan suasana kota kecil yang begitu-begitu saja. Dari segi pembangunan fisik tidak ada menariknya. Tapi sungguh, saya begitu menikmati suara becak motor khas sini yang sering lewat di depan rumah, suasana pasar yang riuh sejak pagi -yang tidak semua bahan pangan yang saya butuhkan ada- dan melahap jajanan sederhana yang kurang variatif.

Di satu sisi, saya bersyukur, saya suka menulis dan berjiwa rumahan. Tak masalah bagi saya untuk lebih banyak tinggal di rumah dan melakukan aktivitas yang saya suka.

“Asalkan ada sinyal buat internetan, ke mana aja bolehlah..” kata saya ke suami dulu, sebagai “syarat” ikut dengannya. Hahaha… Lagipula, daerah yang kami tinggali masih termasuk wilayah kampung halaman saya sendiri. *Yaahh, jelas aja betah!

dok. AFR

dok. AFR

Di sini, waktu luang yang berlimpah jadi cobaan tersendiri. Milih produktif atau malah males-malesan? 😀 Ini sebenarnya bahaya buat kesehatan jiwa orang-orang usia produktif (baca: saya). Di sini semuanya cenderung santai, lamban, tanpa beban, bebas stress, tanpa target, dan tanpa segala macam keruwetan khas kota besar. Coba, mana pernah di sini macet? Mana ada di sini pegawai-pegawai yang jalan cepat takut terlambat? Pantes aja saya yang phlegmatis nyaman-nyaman aja tinggal di tempat kayak gini ya? Hahaha…

Dari sisi ekonomi, tinggal di tempat yang serba terbatas begitu juga punya berkah tersendiri. Jadi jarang jajan yang aneh-aneh dan mahal-mahal, misalnya, sushi, pizza, fried chicken. Otomatis kan bisa berhemat. Kalau mau apa-apa tinggal masak sendiri. Kalau bosen dan pengen jajan, yah, pilihannya paling di seputaran ayam penyet, sate Padang, sate Madura, bakso, mie sop, mie ayam, soto, nasi goreng, mie goreng, dan segala rupa sajian khas rumah makan Minang dan Mandailing yang bercitarasa pedas. Tapi tetap aja, berat badan stabil naiknya, karena pas balik ke Medan sajian khas wisata kuliner kota itu sudah menanti untuk dilahap. 😀

Untuk menyiasati kebosanan dan kejenuhan bekerja, suami suka mengajak saya jalan-jalan. Di situlah salah satu kecocokan kami; jalan-jalan ke mana saja bisa sembari menikmati hidup anugerahNya. Alhamdulillah, saya dikaruniai suami yang nggak ngoyo bekerja, sehingga sering ada waktu buat plesiran. Dan Alhamdulillah, ada saja rizki untuk itu. Biasanya, kami berwisata ke tempat-tempat yang ada di sekitar kota kecil ini saja. Di sini panorama alam a la pantai, pegunungan, dan sungai terhampar di mana-mana. Komplit! Kalau rindu suasana kota besar, cukup bertandang ke kota Padang Sidempuan yang ditempuh selama 1,5 jam atau Bukittinggi yang berwaktu tempuh 5 jam via jalan darat. Biasanya ke sana dibarengi keinginan untuk makan di restoran cepat saji. Hahaha…

dok. AFR

dok. AFR

Sesekali kami plesir agak jauh, sampai ke luar pulau. Biasanya sekalian kalau ada acara yang terkait pekerjaan suami atau sekadar acara keluarga. Jadi meski tinggal di daerah, langkahnya jauh juga ke mana-mana. Hehehe… Seperti perjalanan terakhir kami tempo hari, antara akhir Januari sampai pertengahan Februari. Itu bisa dikatakan sebagai plesiran silaturrahim. Berkunjung ke beberapa tempat, mulai dari Danau Toba di Parapat, Bukittinggi, Padang, sampai ke Jakarta, Bogor, dan Bandung, untuk temu kangen dengan keluarga besar saya dan suami. Menariknya, ada beberapa kerabat yang baru saya temui setelah kenal sekian lama saya tahu sebagai tante atau kakak ipar. Baru saat itulah kami berkesempatan saling bertatap muka dalam balutan suasana ceria. Alhamdulillah

Demikianlah hidup yang saya dan suami jalani di daerah. Suka dukanya tergantung persepsi masing-masing. Semua tempat adalah menarik, kalau kita mau membuka mata dan menyelami sisi menariknya.

 

***

 

Previous Post Next Post

You may also like

27 Comments

  • Reply sari widiarti

    pernah sih Mbak tinggal di daerah yang cukup pedalaman ketika KKN selama sebulan. Lebih menikmati alam, dan mensyukuri masih bisa diberikan hasil alam yang melimpah, enggak bising karena kendaraan, enggak takut polusi 🙂

    February 18, 2014 at 1:10 pm
    • Reply annisarangkuti

      betul, mbak Sari..di daerah, kita bisa menikmati pemandangan alam yang indah dan suasana yang tenang. pokoknya setiap hari serasa lagi liburan.. 😀

      February 18, 2014 at 4:02 pm
  • Reply HM Zwan

    yah begitulah,coba nggak tinggal ditengah hutan siak kayak begini,,nggak bakal bisa tahu tanaman sawit itu bentuknya gimana,pulau sumatera itu gimana,sering ketemu binatang langka di jalanan,jalaqn raya berasa jalan pribadi *g ada macet2nya*,nggak ngemall,berkahnya bisa nabung buat masa depan *uhuk*,makanan mahal dan istimewa mentok di warung lamongan,apalagi ya…???buanyaklah serunya tinggal dikampung,di ndeso,ditempat yg jauh dari hiruk pikuk….enaklah poko’e kak hahahaha

    February 18, 2014 at 2:44 pm
    • Reply annisarangkuti

      hahahah..iyaaa, enak yaa tinggal di kampung..aku paling suka sama sejuk udara pagi, kicau burung, langit biru dan alamnya yang indah.. *cailah.. 😀

      tapi beneran, lama2 malah ga terlalu suka suasana kota yang bising dan rame ya, mbak.. 🙂

      February 18, 2014 at 4:04 pm
  • Reply fawaizzah

    saya yg biasa tinggal di desa pelosok, begitu diajak suami tinggal di agak kota malah gimanaa gitu rasanya..

    February 18, 2014 at 2:54 pm
    • Reply annisarangkuti

      gimana gitu gimana, Zah? hihihi..lha sekarang Izzah emang tinggal di mana? masih di sekitar Magetan kah? atau udah pindah jauh ya?

      February 18, 2014 at 4:05 pm
  • Reply sofia zhanzabila

    Pemandangan kota yg difoto dari atas itu cakep banget, makkk….
    kayaknya nyaman dan adem ayem yah tinggal di sana 🙂

    February 18, 2014 at 3:26 pm
    • Reply annisarangkuti

      iya, maak..adem, ayem, tentrem..hihih..foto yg di atas itu pemandangan kota Padang Sidempuan, 1,5 jam dari Panyabungan, domisili saya, mak.. 🙂

      February 18, 2014 at 4:06 pm
  • Reply Inge

    kalau buat saya pribadi justru saya suka tinggal di tempat2x spt ini. jadi ingat jaman KKN dulu. satu2xnya kehidupan modern yg mungkin belum bisa saya tinggalkan yaitu internetan hahahahahahahahahaahahahaha…tapi kalau soal ke mall dan sebangsanya, mmg dari dulu gak yg heboh2x banget…*alasan aja sih. aslinya mmg kere hahahahaahahahahahahahahaha*

    ayo berkebun, mbak Nissa….utk mengisi waktu luang.

    February 18, 2014 at 6:45 pm
    • Reply annisarangkuti

      hihihih..iyaa, mbak Inge..satu2nya kehidupan modern yg ga bisa ditinggalkan ya internetan ya..terserahlah mau dibawa ke mana (eeaaa..) tapi teteeepp, sinyal buat internetan harus lancar jaya..hahahahahah..

      iya, hidup di daerah emang asik. dan untunglah saya bukan anak mall..hahahaha..

      berkebun ya? hmmm..seumur2 belum pernah serius nanem sesuatu..hihihi..patut dipertimbangkan..hehe..thanks, mbak Inge.. 🙂

      February 19, 2014 at 7:31 am
      • Reply Inge

        justru krn belum pernah serius dlm bercocok tanam, maka perlu dimulai, biar ada pengalaman baru 😀 . dari yg kecil2x saja dulu dan mudah, mbak…pasti terlena hahahahahahhahhaha

        February 19, 2014 at 6:42 pm
        • Reply annisarangkuti

          Terlena-nya Ikke Nurjannah ya? Ahahaha..iya juga ya, mbak Inge..baiklah, cari2 tanamannya dulu.. 🙂

          February 22, 2014 at 3:51 pm
  • Reply Tita Bunda Aisykha

    jadi pengen tinggal di lingkungan kyk tmpt tinggalnya ipin upin he he,,kampung bgt,,asri bgt,,sederhana bgt,,kdg aku jg nyari tmpt libur yg bersawah mba,,yg ijo royo2,,yg msh alami,,

    February 19, 2014 at 12:12 am
    • Reply annisarangkuti

      ehehehe..iyaaa..tempatnya Upin Ipin itu asik yaa.. 🙂

      wah, di sini masih hijau di mana-mana, mbak..ada sungai jernihnya juga..pokoknya kalo ngeliat kayak yang sering ada di lukisan2 itu..hehe..iya, liburan buat anak2 lebih asik yg bernuansa alam ya.. 🙂

      February 19, 2014 at 7:33 am
  • Reply missrochma

    aku juga berjiwa rumahan. beneran lho, nisa. sumpah ya!! *komen apaan sih ini?*

    Tapi memang iya, kadang aku juga bosan dengan bisingnya kota besar. Semisal saat luang, kami ke surabaya sekedar ingin makan makanan cepat saji seperti katamu. Perjalanan ke sana yang macet dan penuh polusi, itu saja sudah bikin stres dan melelahkan. Ah, dinikmati saja hidup di daerah yang tak terlalu cepat mobilitasnya. Karena entah, beberapa tahun kemudian, kita mungkin tak akan merasakan seperti ini lagi 🙂

    February 19, 2014 at 3:59 am
    • Reply annisarangkuti

      iyaaa, miss..kadang2 sih ada perasaan pengen sibuk di kota kayak temen2 ya..tapi yah, dinikmati ajalah selagi bisa hidup di daerah yang sebenarnya banyak orang kota pengen tinggal di sini..hehehe..

      pas awal2 sih masih maruk mau makan makanan ala kota yg cepat saji gitu. tapi lama2 malah lebih suka makanan rumahan & a la kampung..cepat saji jd kurang selera..hahahah..syukurlah, jd lebih sehat & hemat..hihihih..

      February 19, 2014 at 7:37 am
  • Reply uwien

    E-enak gitu tempatnya

    February 19, 2014 at 4:21 am
    • Reply annisarangkuti

      hehehe..enak emang, mak Uwien..yuk, mampiiirr.. 😀

      February 19, 2014 at 7:37 am
  • Reply naniknara

    Sepakat mbak, gpp didaerah 3T (terluar, tertinggal, ter…) yang penting sinyal internet lancar.
    eh saya juga tinggal di daerah lho

    February 19, 2014 at 8:46 am
    • Reply annisarangkuti

      Lhaa..kok kelewatan ini komennya mbak Nara.. 🙂

      Siipp..tooss sesama warga daerah ya, mbak.. 😀

      February 20, 2014 at 12:32 pm
  • Reply bundafinah

    Nisa, saya juga tinggalnya di kampung, deket sawah….tapi rasanya lebih gimana gituuu…mata jadi ga “rakus” beli ini beli itu dan saya setuju bangeetttt kalo hidup di daerah itu berhemat dan bisa nabung dikit-dikit. Tapi, susahnya berasa pas ngidam kemaren pengen makanan yang ada di kotaa…huhuhuhuhu… 😀 😀 😀

    February 19, 2014 at 11:53 am
    • Reply annisarangkuti

      ahahahah..emang Uleng sempet ngidam apa? fast food ya? hihihihi..iyaa, tinggal di kampung emang asik..lebih tenang, tentrem, adem ayem.. 😀

      February 19, 2014 at 5:18 pm
  • Reply Di Timur Fajar (DTF)

    Kebetulan lagi bumi berpijak di daerah, yah dicari saja langit terkembang di atas sana.
    Segalanya menarik kalau kita mau menyibaknya dengan hati dan cinta.

    April 15, 2014 at 2:50 pm
    • Reply annisarangkuti

      ya betul..dinikmati aja ya..mau di manapun selalu ada sisi menariknya..

      makasih udah mampir, mas DTF..

      April 16, 2014 at 11:21 am
  • Reply Zulfitri

    Mantap….nggak bosan-bosan bacanya. Teruslah menulis, membawa manfaat bagi sesama..

    April 17, 2014 at 12:13 am
    • Reply annisarangkuti

      Loh? Om Zul, ya? Hehehe..apa kabar, Om? Makasih udah mampir ya, Om.. 🙂

      Aamiin..semoga tetap terus menulis yg bermanfaat.. 🙂

      April 17, 2014 at 12:46 am
  • Reply riko ajah

    Emang enak sih tinggal di desa mbak, tapi yg gak enaknya itu gak ada sinyal internetan mbak 😀

    June 24, 2016 at 4:37 pm
  • Leave a Reply

    %d bloggers like this: