Review

5 Film Berkesan Sepanjang Masa Versi AFR

 

BAHASAN kali ini asyik. Meski sudah lama tidak menonton film di bioskop, tapi kadang-kadang saya masih menikmati film lewat TV kabel. Genre film yang saya suka adalah drama, baik itu drama thriller, drama keluarga, drama romantis, drama biopik maupun drama komedi. Jangan harap saya bakal menikmati film bergenre action atau horror. Kesan setelah menonton lebih banyak negatifnya. Terutama film horror. Meski penasaran, saya usahakan menahan diri untuk tidak menonton. Haha. Efek setelah nontonnya itu, loh! Masa’ ke dapur atau kamar mandi saja jadinya mesti ditemani? 😀

 

Dari sekian banyak film yang pernah ditonton, berikut ini list 5 film (Hollywood) yang berkesan buat saya. Meski nama para tokohnya suka lupa-lupa ingat, tapi alur dan inti ceritanya masih bersarang di dalam kepala. So, here they are:

The Pianist

 

The Pianist termasuk film drama biopik, berdasarkan novel autobiografi yang ditulis Wladyslaw Szpilman yang berjudul “The Pianist: The Extraordinary True Story of One Man’s Survival in Warsaw, 1939-1945“. Ia menulis kisah hidupnya pada masa Holocaust saat perang dunia II.

 

Wladyslaw Szpilman (Adrien Brody) adalah seorang pianis Yahudi-Polandia yang mencoba bertahan hidup pada masa invasi Jerman ke Warsawa, Polandia. Pada suatu waktu, di bawah tekanan tentara Nazi, ia dan keluarganya terpaksa berpisah. Keluarganya dipaksa tentara Nazi naik kereta api dengan tujuan entah ke mana. Ia tertinggal oleh karena takdir kematian belum menyapanya. Setelahnya, ia pun luntang lantung berusaha bertahan hidup dari satu tempat ke tempat lain. Kelaparan, kesakitan, sekaligus kehilangan yang dialami Szpilman di tengah bahaya yang menghantuinya setiap saat membuat emosi kita sebagai penonton pun ikut larut. Ada banyak adegan yang membuat kita tegang dan menahan napas karena cemas melihat nasib Szpilman selanjutnya. Ada juga beberapa adegan yang membuat air mata menetes, atau menganga ngeri melihat kekejaman Hitler dan bala tentaranya.

 

The Pianist (https://www.amazon.co.uk/Pianist-DVD-Adrien-Brody/dp/B0001E5TSI)

 

Setelah sekian lama bernasib tak jelas di kota Warsawa yang telah mati, tibalah ia di sebuah bangunan yang dianggapnya bisa dijadikan tempat bersembunyi. Baru belakangan diketahuinya bangunan itu ternyata dijadikan markas tentara Nazi, namun ia tak lagi bisa kabur. Ia naik ke lantai atasnya dan bersembunyi di sana. Di tempat itu, Szpilman menemukan sebuah piano, namun tak cukup berani memainkannya karena khawatir ketahuan. Padahal naluri pianisnya sudah sangat ingin memainkan sebuah irama yang sejenak bisa menenangkan emosinya yang senantiasa kalut. Di lantai atas itu pula, ia menemukan sebuah kaleng berisi makanan. Akibat kelaparan yang sangat, di tengah usaha kerasnya untuk  membuka kaleng itu dengan alat yang terbatas, kaleng itu menggelinding ke dekat sepatu seorang perwira tentara Nazi yang kebetulan naik. Seketika Szpilman hanya bisa mematung karena merasa nasib kematiannya sudah dekat. Ia sedang berhadapan dengan Kapten Wilm Hosenfeld (Thomas Kretschmann), sang penentu nasibnya selanjutnya.

 

Film yang diproduseri dan disutradarai Roman Polanski yang rilis pada tahun 2002 ini sukses menyabet banyak penghargaan, terutama Oscar untuk kategori Best Actor, Best Director, dan Best Writing Adapted Screenplay.

 

A Beautiful Mind

 

Bagi Anda penyuka akting Russell Crowe, pasti tidak akan melewatkan film yang diadaptasi dari buku biografi berjudul sama, yang ditulis oleh seorang jurnalis, Sylvia Nasar, yang sukses menuai banyak pujian dan penghargaan sejak awal rilisnya pada tahun 2001.

 

Berkisah tentang kehidupan John Forbes Nash, Jr, seorang ilmuwan Matematika peraih nobel di bidang ekonomi yang menciptakan Game Theory pada tahun 1994. Kisahnya berfokus pada perjuangan John Nash (Russell Crowe) dan istrinya, Alicia Larde (Jennifer Connelly) untuk menyembuhkan Nash dari schizophrenia paranoid yang dideritanya. William Parcher (Ed Harris) adalah tokoh halusinasi yang menjadikan Nash sebagai agen rahasia yang bekerja untuk Pentagon. Ia memberi Nash “tugas” demi “tugas” yang di akhir setiap tugasnya mewajibkan Nash untuk mengirimkan amplop berisi kode rahasia di sebuah kotak pos bangunan kosong. Makin hari, halusinasi Nash makin menjadi hingga memengaruhi pekerjaannya di kampus  dan kehidupan keluarganya. Menyadari gangguan mental yang dialami suaminya, Alicia berkonsultasi dengan seorang psikiater, dr. Rosen. Darinyalah Alicia mengetahui schizophrenia paranoid yang diderita suaminya.

 

Suatu ketika, saat Nash memberi kuliah umum di Harvard University, ia melihat dr. Rosen dan berusaha kabur karena menurut Parcher –yang senantiasa mengikuti kemanapun ia pergi, dr. Rosen adalah seorang agen rahasia Rusia. Sambil ketakutan, ia meninggalkan kuliah umum yang dihadiri banyak akademisi itu dan lari menghindari dr. Rosen. Saat akhirnya Nash terkepung, ia pun disuntik obat penenang dan dibawa ke semacam rumah sakit jiwa. Dari sanalah ia mulai diwajibkan minum obat setiap harinya dan diistirahatkan dari kampus tempatnya mengajar.

 

A Beautiful Mind (https://thatsmaths.com/2015/06/04/the-tragic-demise-of-a-beautiful-mind/)

 

Hari demi hari, Nash kian merasa tak berguna karena tak ada sesuatu pun yang bisa dikerjakannya. Ia lebih sering duduk termenung di teras rumahnya karena efek obat penenang. Segala sesuatu dikerjakan sepenuhnya oleh sang istri. Nash merasa obat-obatan yang diminumnya hanya membuat hampa hidupnya. Ia pun berhenti meminum obat yang diberikan, menyembunyikannya di sebuah laci agar tak diketahui Alicia. Hingga pada suatu ketika Alicia menemukan bayi mereka di bath up yang dialiri air. Nash yang ada di situ hanya menonton bayi itu, mengatakan kalau itu adalah suruhan Parcher.

 

Alicia segera sadar schizophrenia suaminya kambuh lagi. Ia pun menelepon dr. Rosen. Nash ketakutan bahwa Parcher bisa saja membunuhnya kalau Alicia melakukan itu. Setelah pertengkaran yang melibatkan Parcher, Alicia pun pergi membawa bayinya, namun dicegat Nash saat mobil yang dikendarainya akan keluar. Di titik itu, ia lalu menyadari bahwa anak perempuan yang selalu bersama Parcher, Marcee (Vivien Cardone) tak pernah tumbuh besar, padahal  ia sudah mengenalnya selama 3 tahun. Ia pun mengakui apa yang dialaminya hanyalah halusinasi dan berjanji akan mengikuti prosedur pengobatan dr. Rosen. Demikianlah cerita bergulir hingga akhirnya kontribusi Nash pada dunia Matematika dan Ekonomi diakui dunia.

 

Dari sisi pesan moral, betapa film ini mengajarkan tentang kesetiaan pada pasangan, apapun pasang surut yang mungkin terjadi. Dukungan orang-orang terdekat adalah hal yang sangat penting bagi tercapainya kesembuhan seorang pengidap gangguan mental. Film besutan Ron Howard dan Brian Grazer ini pun sukses menyabet 4 piala Oscar untuk kategori Best Picture, Best Director, Best Writing Adapted Screenplay, dan Best Actrees in a Supporting Role.

 

 

The King’s Speech

 

Apa jadinya jika seorang raja menderita stuttering (gagap)? Adalah Albert Frederick Arthur George atau Pangeran Albert (The Duke of York) atau sering dipanggil Bertie (Colin Firth), putra bungsu Raja George V (Michael Gambon) dari Kerajaan Inggris, yang mau tak mau harus naik tahta setelah mangkatnya sang raja.  Putra sulung raja, Duke of Windsor, David (Guy Pearce), yang diharapkan menjadi penerus tahta, mendadak mengelak mahkota. Hubungannya dengan Wallis Simpson (Eve Best), seorang janda yang ingin dinikahinya, menjadi penyebab ia lebih memilih hidup sebagai orang biasa daripada menjadi raja yang harus hidup dengan beragam aturan.

 

Istri Bertie, Elizabeth Bowes-Lyon (Helena Bonham Carter)-kita mengenalnya sebagai mendiang Ibu Suri- menyadari kekurangan suami tercintanya ini. Ia pun sempat mendatangkan seorang terapis wicara namun tak membuahkan hasil. Lalu tanpa sepengetahuan Bertie sebelumnya, ia kemudian mendatangi seorang dokter yang ahli dalam menangani gangguan komunikasi, dr. Lionel Logue (Geoffrey Rush).

 

The King’s Speech (http://www.cinemas-online.co.uk/people/the-kings-speech-a97360.html)

 

Dengan bermodal dorongan sang istri, Bertie pun mendatangi tempat praktik sang dokter. Saat anamnesa (wawancara) yang dilakukan dr. Logue terhadapnya, Bertie pun tidak dapat mendeskripsikan secara pasti penyebab gagap (stuttering) yang menurutnya tidak diperoleh sejak kecil. Yang jelas, dari hasil anamnesa tersebut diketahui bahwa Ayahnya yang seorang raja itu memang keras. Bertie tampak tak berdaya menghadapi sikap keras sang Ayah karena karakternya yang cenderung lemah dan menerima apapun aturan hidup dalam istana. Sangat bertolak belakang dengan abangnya, David, yang memiliki karakter pemberontak dan cenderung acuh tak acuh terhadap kekangan aturan yang membatasi kebebasannya. Terapi dengan dr. Logue inilah yang menjadi pusat cerita. Berbagai gejolak yang dirasakan Bertie selama terapi, sempat membuat keinginannya surut untuk terus melanjutkan terapi. Hubungan mereka sebagai terapis dan pasien pun naik turun.

 

Puncaknya adalah saat Inggris memutuskan untuk berperang melawan Jerman yang saat itu dipimpin oleh Hitler. Sebagai raja, Bertie yang saat itu sudah digelari sebagai Raja George VI, harus melaksanakan tugasnya; berpidato untuk menyatakan keadaan perang. Meski merasa sudah lebih baik di bawah penanganan dr. Logue, tetap saja keraguan muncul di benaknya maupun orang-orang yang telanjur melihatnya sebagai penggagap.

 

Dari film ini, banyak hal tentang gagap yang sebelumnya tidak kita ketahui tergambar cukup jelas. Karakter yang dimainkan tokoh utamanya diperankan dengan baik. Tak heran, beberapa piala Oscar pun berhasil diboyong, di antaranya untuk kategori Best Picture, Best Actor dan Best Director, serta puluhan penghargaan dari festival film lainnya.

 

13 Going on 30

 

Setelah 3 film “berat”, mari kita rehat sejenak. Berikut ini adalah ulasan tentang film drama romantis ala Hollywood. Tapi bukan Hollywood namanya kalau tidak bisa mengemas cerita drama romantis ringan yang kaya ide dan sarat pesan moral. Meskipun fiksi fantasinya tampak nyata, tapi tetap saja pesan yang disampaikan film ini begitu membumi. Sejak menonton 13 Going on 30 beberapa tahun lalu, entah kenapa saya jadi ikut larut dalam cerita manisnya dan sempat tergila-gila dengan Mark Ruffalo. Haha! Tiba-tiba sikap kalem dan tulus Matty Flamhaff (Mark Ruffalo) dalam film ini begitu bikin penasaran penonton macam saya.

 

Adalah Jenna Rink (Christa B. Allen), seorang remaja berusia 13 tahun yang ingin sekali jadi populer. Demi tujuannya itu, dia pun mengundang geng “Six Chicks”, geng teman perempuannya yang populer di sekolah. Ia rela mengerjakan PR mereka berenam asalkan mereka semua mau datang ke rumahnya untuk ikut merayakan ulang tahunnya.

 

Pagi-pagi sekali, Matt (Sean Marquette), teman baiknya, sudah datang menghadiahi Jenna sebuah rumah boneka berwarna pink, yang ia tambah dengan “butir ajaib pengabul keinginan” di atapnya. Jenna hanya menerimanya tanpa antusias, menaruhnya saja di dalam lemari. Sesampainya geng Six Chicks dan pacar-pacar mereka ke rumahnya, mereka malah mengerjai Jenna dengan menyuruhnya menutup mata untuk permainan “seven minutes in heaven”, duduk di dalam lemari membayangkan teman laki-laki yang ingin diajaknya ke pesta prom night. Sementara ia menutup mata, geng Six Chicks dan para pacar mereka malah pergi meninggalkannya, tak lupa dengan PR yang sudah dikerjakan Jenna.

 

13 Going on 30 (https://www.amazon.com/13-Going-Blu-ray-Andy-Serkis/dp/B001KEHAH6)

 

Saat Jenna membuka pintu lemari, yang ada di hadapannya adalah Matt, bukan teman laki-laki tampan yang dibayangkannya. Jenna pun marah dan mendorong Matt. Sadar dikerjai Six Chicks, ia pun kembali mengunci diri di dalam lemari. Sambil menangis, ia menghempas-hempaskan tubuhnya ke belakang rak yang ada di situ, membuat “butir ajaib pengabul keinginan” itu jatuh menghujaninya tanpa ia sadari. Dalam hatinya, ia ingin menjadi wanita matang berusia 30 tahun.

 

Dan itulah yang terjadi pada keesokan harinya. Ia bangun dengan sosok Jenna Rink (Jennifer Garner) yang sudah dewasa, tinggal di apartemen di New York, bekerja di sebuah majalah terkenal, dan populer. Ketua Six Chicks, Lucy “Tom Tom” Wyman (Judy Greer) bahkan jadi teman karibnya. Semua yang diinginkannya menjadi kenyataan.

 

Sampai pada suatu titik ia menyadari bahwa hidup yang dijalaninya itu justru tidak membuatnya tenang. Ia teringat Matt dan mencari alamatnya. Namun Matt bukan lagi Matt yang pernah dikenalnya. Matt yang tumbuh menjadi seorang fotografer menyambutnya dingin dan tak percaya kalau Jenna tak ingat apa yang telah terjadi di 17 tahun yang terlewat.

 

Adegan demi adegan pun menyeret kenangan Jenna dan Matt ke masa lalu. Nostalgia. Sampai akhirnya Jenna diam-diam menaruh cinta pada Matt yang sesungguhnya telah bertunangan. Pertemuan mereka saat dewasa, yang sampai pada suatu titik, ingin diubah Jenna lagi dari awal, sejak ulang tahunnya yang ke-13. Demikianlah kisahnya mengalir manis dan penuh pesan bahwa hidup hanya akan terasa indah jika dikelilingi orang-orang yang tulus. Bahwa popularitas dan materi bukanlah segalanya.

 

Pesan klise, namun sangat baik dibawakan oleh film yang dirilis pada tahun 2004 ini. Akting para pemainnya yang ciamik, adegan-adegan romantis yang tidak vulgar, membuat tak bosan untuk menontonnya ulang. Sungguh sebuah film drama romantis yang tak terlupakan (buat saya).

 

Primal Fear

 

Lagi, sebuah film yang diangkat ke layar lebar dari adaptasi sebuah novel. Kali ini novel William Diehl berjudul Primal Fear (1993), diadaptasi menjadi sebuah film berjudul sama pada 1996. Diperankan Richard Gere sebagai Martin Vail, yang menjadi pengacara bagi Aaron Stampler (Edward Norton), seorang remaja 19 tahun yang diduga membunuh Uskup Agung Rushman (Stanley Anderson) di apartemennya. Martin menganggap bahwa Aaron tidak bersalah, karena dari tampilan Aaron yang pemalu dan penggagap. Ia merasa simpati pada remaja tersebut dan mulai melakukan penyelidikan tentang kasus pembunuhan itu.

 

Dimulai dari apartemen tempat kejadian perkara. Di sana ia menemukan sebuah video VHS yang mengungkap skandal seks pedofilia yang dilakukan Uskup Agung Rushman terhadap pemuda pemudi altar, Aaron dan beberapa temannya, dengan menyuruh mereka berhubungan seks satu sama lain. Seketika Martin menjadi dilema, antara membuka bukti itu di pengadilan untuk meraih simpati juri, namun sekaligus itu akan disangkakan menajdi motif kuat Aaron untuk melakukan pembunuhan Uskup Agung tersebut.

 

Primal Fear (https://www.alamy.com/stock-photo/primal-fear-the-movie.html)

 

Pada suatu kesempatan pertemuan di tahanan, Martin mengkonfrontasi Aaron tentang kasus itu. Tiba-tiba Aaron yang pemalu dan penggagap menggebrak meja, menyerang Martin dengan mata nyalang dan mulut yang mengeluarkan sumpah serapah. Aaron menyebut dirinya Roy, bukan Aaron yang penakut. Beberapa saat kemudian, “Roy” berubah jadi Aaron yang pemalu kembali, tanpa bisa mengingat apa yang barusan terjadi. Dari analisis psikiater yang menangani Aaron, Aaron mengalami Dissociative Identity Disorder (DID) akibat kekerasan fisik yang dilakukan ayahnya semasa kecil ditambah kekerasan seksual yang dilakukan Uskup Agung terhadapnya.

 

Dengan diagnosis psikiater itu, Martin pun yakin Aaron akan terbebas dari kasus pembunuhan ini. Kejadian berikutnya di pengadilan semakin menguatkan keyakinannya itu. Pengadilan memutuskan Aaron tidak bersalah dan hanya menjalani rehabilitasi karena gangguan mental setelah Aaron tiba-tiba berubah jadi Roy saat jaksa Venable (Laura Linney) mengkonfrontasinya. Ia menyandera Venable dengan membekap lehernya sambil mengancam akan melukai siapa saja yang berusaha mendekat. Beberapa saat kemudian, Roy kembali berubah menjadi Aaron. Keputusan pengadilan itu sekaligus membuka borok korupsi penguasa yang juga berkaitan dengan Uskup Agung.

 

Namun apakah cukup sampai di situ? Kuncinya ada di adegan terakhir antara Martin dan Aaron. Sungguh sebuah plot twist yang mencengangkan! Penasaran? Tonton saja film yang meraih Golden Globe Award untuk kategori Best Supporting Actor ini.

 

***

 

Ditulis untuk tema ke-10 Blogger Perempuan Network 30 Days Challenge 2018.

Previous Post Next Post

You may also like

2 Comments

  • Reply Dyah

    Film pilihannya bagus². Cuma yang 13 going on 30 yang saya belum pernah tahu.

    November 30, 2018 at 7:00 pm
    • Reply AnnisaRangkuti

      Coba ditonton, mbak. Menurutku asik sih. Romantismenya menghangatkan jiwa. #apasih 😅😆

      November 30, 2018 at 7:59 pm

    Leave a Reply

    %d bloggers like this: